Ken Setiawan: Doktrin Radikal Anggap Presiden Dzalim Seperti Firaun



Perkembangan Radikalisme dalam era globalisasi lewat media sosial semakin meningkat ditambah dengan berkembang pesatnya teknologi yang membuat gerakan radikal muncul secara masif di dunia nyata maupun dunia maya.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengatakan bahwa media sosial merupakan peluang bagi kelompok radikalisme disaat pandemi untuk melakukan propaganda dan perekrutan melalui internet.

Salah satu cara ampuh untuk membuat orang menjadi radikal dan militan terhadap suatu kelompok adalah diberikan lawan atau musuh, kalau tidak ada musuh maka ciptakan musuh, ibarat orang agar mau diajak berkelahi ya harus punya musuh, jadi mereka itu membuat propaganda dengan membenturkan sesuatu dengan agama supaya orang benci kepada aparat dan pemerintah termasuk presiden.

Aparat dimusuhi oleh kelompok radikal karena aparat yang nangkap anggota dan pimpinan mereka, aparat dianggap menghalang halangi perjuangan atau jihad mereka, bahkan aparat dituduh telah memadamkan cahaya Tuhan, maka membunuh aparat dianggap jihad yang utama, makanya beberapa kasus terorisme yang disasar adalah aparat. Kata Ken

Dilematis memang bagi kelompok radikalisme untuk menerima kenyataan bahwa saat ini adalah kondisi yang tidak menguntungkan, sebab iklim demokrasi dianggap haram dan Pancasila juga dianggap taghut atau berhala, sedangkan mereka tidak ada pilihan lain selain tetap tinggal dan ikut dinegara demokrasi ini. Tutur Ken.

Disaat galau inilah mereka menumpahkan kemarahan dan kekesalan terhadap apapat dan pemimpin yang di anggap taghut dan dzalim di media sosial.

Mereka berusaha meyakinkan kepada anggotanya bahwa kondisi hari ini adalah sama seperti kondisi umat dan nabi Musa dibawah tekanan Firaun yang dzalim. Presiden kita dianggap Firaun masakini. Jelas Ken.

Mereka juga selalu menggakimi orang yang berseberangan dengan mereka dengan sebutan munafik, murtad, anti Islam, komunis, bahkan bila memuji kinerja aparat dan pemerintah dianggap penjilat. Pokoknya tidak ada baiknya sama sekali. Tambah Ken.

Group group di medsos mereka manfaatkan untuk propaganda, mulai facebook, whatsapp telegram dll, termasuk mereka juha membuat website website baru untuk mengcounter berita berita tentang pemerintah, pokoknya semua yg di lakukan aparat dan pemerintah salah, tidak sedikit juga berita yang dibumbui dengan informasi hoax dan ujaran kebencian untuk meyakinkan para anggotanya.

Tidak sedikit orang yang biasanya berteman akrab, gara gara pendapatnya berbeda kini saling blokir dan putus pertemanan hanya karena berita hoax. Ujar Ken.

Walaupun mereka sebenarnya takut juga dengan sangsi dari berita hoax yaitu undang-undang informasi dan transaksi elektronik, karena beberapa tokoh dan anggota mereka tertangkap aparat karena beberapa kasus terkait UU ITE dan ujaran kebencian.

Dalam kondisi galau tersebut mereka sudah tidak bisa berpikir jernih lagi, sebab mau memberontak secara frontal bagi mereka sudah yakin akan kalah, menunggu pemilu depan belum tentu jagoan mereka menang, jadi media sosial mereka manfaatkan untuk menumpahkan kemarahan mereka.

Menurut Ken, Presiden kita memang tidak sempurna, masih ada kekurangan, termasuk masih ada oknum aparat dan pejabat yang tidak baik. Kritis boleh, tapi jangan sampai makar.

Krtitis itu bukan berarti harus memberontak dan menyamakan presiden dengar Firaun serta menganggap hari ini sebagai masa jahiliyah, justru era demokrasi ini adalah kesempatan dan peluang untuk kelompok radikal bisa bebas dan tumbuh subur, sebab kalau di luar negara demokrasi mereka di larang. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *