Kalah Debat, Mahasiswi S2 Tehnik Lingkungan ITB Putuskan Hijrah ke Negara Islam Indonesia



Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengaku akhir akhir ini banyak mendapat laporan dari masyarakat terkait gerakan radikalisme yang mengatasnamakan agama.

Beragam segmentasi laporan yang masuk ke NII Crisis Center, mulai kalangan pelajar, mahasiswa, dosen, kalangan buruh, tidak sedikit juga laporan dari oknum ASN dan aparatur negara yg terindikasi terpapar.

Menurut Ken, perekrutan radikalisme bisa menimpa siapa saja, tak peduli usia dan latar belakang sosial, karena biasanya mereka menggunakan sugesti agama dan ayat ayat kitab suci.

Sebenarnya banyak yang sudah bergabung lalu melihat ada yang salah lalu keluar, namun banyak juga yang terpaksa terus mengikuti karena takut ancaman, sebab yang keluar dari jaringan itu diancam halal darahnya dan akan dibunuh.

Salah satu korban yang mencoba keluar adalah Bunga (nama samaran) yang merupakan mahasiswi S2 tehnik lingkungan di Institut Teknologi Bandung (ITB)

Awal keterlibatan Bunga adalah ketika berdiskusi dengan senior di program studi, mulanya hal hal bagus tidak ada yang aneh, diskusi tentang manusia yang fitrah tugasnya adalah menjalankan perintah dan meninggalkan larangan tuhan.

Diskusi yang awalnya dikampus lalu lama kelamaan pindah diajak ke kost dan bertemu dengan orang berbeda tapi masih satu kampus di ITB.

Semakin lama diskusi menjadi semakin aneh, karena mereka mengajak untuk bershahadat kembali karena shahadat Bunga dianggap belum sah, Islamnya juga dianggap masih keturunan, makanya harus bershahadat ulang.

Tapi karena semua hal dalam diskusi selalu di landasi ayat ayat alquran, maka Bunga pun berprasangka baik saja dan mengikutinya, Bunga juga di doktrin bahwa perintah pimpinan kelompok mereka harus di taati, dalilnya sami’na waato’na.

Bahkan sampai dalam hal untuk pernikahan pun, seorang jamaah perempuan tidak boleh menentukan sendiri, tapi di pilihkan oleh pimpinan kelompok, jamaah hanya diminta kirim cv dan biodata lengkap, lalu dipertemukan dengan calon dalam forum taaruf.

Pernikahan dianggap sebuah ikatan kuat dalam kelompok, sebab ketika seorang perempuan sudah menikah maka akan terikat dua tanggung jawab kepada negara dan suami.

Saat dalam kondisi bimbang, Bunga serching di internet dan berkomunikasi dengan NII Crisis Center. Akhirnya setelah konsultasi panjang, sepakat untuk berhenti dari kelompok tersebut walaupun terus dihubungi oleh temen temen dikelompok yang masih satu kampus.

Menurut Bunga, di Bandung, khususnya di kalangan kampus sudah banyak mahasiswa yang menjadi korban gerakan sesat negara Islam Indonesia, termasuk di ITB sudah banyak oknum yang terpapar dan mengadakan perekrutan di kampus.

NII Crisis Center menerima laporan pengaduan dan membantu masyarakat terkait masalah bahaya radikalisme di whatsapp 08985151228.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *