Tangkal Intoleransi Radikalisme dan Terorisme, Polda Sumbar Hadirkan Mantan Pelaku Radikal Ken Setiawan



Direktorat Pembinaan Masyarakat  Kepolisian Daerah Sumatera Barat menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema peran masyarakat dalam mengimplementasikan nagari tageh kesehatan, keimanan, pangan, ekonomi dan menangkal intoleransi, radikalisme serta terorisme di Hotel Grand Zuri, Padang, Jumat (26/01/2021).

Acara FGD dibuka oleh Kapolda Sumatera Barat Irjen Pol Drs. Toni Harmanto, MH dan didampingi oleh Direktur Binmas Polda Sumbar Kombes Pol Johni Soeroto serta pejabat utama Polda Sumbar.

Dalam sambutannya, Irjen Pol Drs. Toni Harmanto mengajak seluruh masyarakat, tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk berpartisipasi dan mengantisipasi pencegahan paham intoleransi radikal dan terorisme.

Tidak sekadar formalitas, kegiatan ini turut mengundang pemateri yang pernah terjun langsung dalam gerakan radikal untuk menyampaikan pengalaman hijrahnya yaitu Ken Setiawan, mantan aktivis kelompok Negara Islam Indonesia (NII) yang merupakan salah satu organisasi terlarang di Indonesia.

Dalam kapasitasnya, Ken Setiawan diminta membantu Polda Sumbar dalam menanamkan rasa cinta terhadap NKRI. Hal itu dilakukan dengan menceritakan pengalaman kelamnya ketika tergabung dan ketika keluar dalam organisasi radikal agar masyarakat waspada.

Untuk memastikan materi deradikalisasi ini sampai ke pihak yang tepat, Polda Sumbar mengundang perwakilan organisasi masyarakat, lembaga pemerintah, sosial dan keagamaan.

Dengan itu Polda berharap bisa menjadi penyambung lidah atau mitra kepolisian untuk menangkal intoleransi, radikalisme, terorisme dalam masyarakat.

Ken Setiawan sendiri saat ini menjadi pionir gerakan Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, yaitu sebuah organisasi yang gerakannya menjadi bilik aduan masyarakat serta motor pencegahan atas gerakan radikal yang saat ini dianggap menyesatkan Ummat.

Tidak perlu muluk-muluk dan memakan waktu yang lama bagi kelompok radikal dalam melakukan kaderisasi, ungkap Ken Setiawan.

Bahkan Ken Setiawan memberikan simulasi perekrutan kepada salah satu peserta FGD, dalam kurun waktu 1 menit lansung bisa mengkafirkan dirinya dan merasa berada disebuah negara yang jahiliyah, negara dianggap melawan hukum tuhan.

Ken menilai bahwa organisasi intoleran dan radikal memanfaatkan kesempatan menggaet calon anggota baru saat situasi bangsa sedang terpecah belah seperti saat ini, mereka membuat proaganda seolah olah pemerintah dzalim.

Hal tersebut menjadi potensi besar bagi kelompok radikal memprovokasi masyarakat, mereka justru berharap terjadi konflik, karena itu dianggap sebuah peluang besar untuk meruntuhkan pemerintah yang dianggap zalim dan taghut,” jelasnya.

Menurut Ken, di Sumatera Barat ada beberapa kelompok radikal yg dominan dan bergerak masif, diantaranya Khilafatul Muslimin, JAD, MMI dan Ikhwanul Muslimin.

Pembaiatan Khilafatul Muslimin di sumbar menurut Ken sudah mulai sejak tahun 2016 di daerah Payakumbuh, Agam, Solok, Tanah Datar dan Kota Padang, bahkan di Kota Padang saat ini mereka sudah ada jaringan sampai di kecamatan.

Oleh karenanya, pada kesempatan itu Ken mengajak seluruh lapisan masyarakat yang hadir untuk bersama memerangi pemikiran memecah belah bangsa tersebut. Yaitu dengan cara merangkul segenap lingkungannya untuk memasyarakatkan Pancasila yang merupakan alat pemersatu bangsa.

Caranya, kita harus berusaha satukan perspektif dahulu tentang radikalisme dan Pancasila yang dianggap taghut. Setelah itu baru bisa merapatkan barisan untuk melawannya agar masyarakat tidak terpengaruh dan terpapar paham radikal,” ungkapnya.

Ken Setiawan menekankan bahwa saat ini orang-orang yang terjebak dalam paham radikalisme, intoleransi dan terorisme ialah akibat tidak mau belajar, malas, dan taklid dalam satu kelompoknya saja yang dianggap paling benar.

“Akibat adanya paham inroleransi, radikal dan terorisme inilah masyarakat jadi banyak salah kaprah tentang ajaran Islam. Banyak yang akhirnya masyarakat phobia terhadap agama, bahkan ada orang tua yang tidak membolehkan anaknya belajar agama di sekolah atau di kampus, karena takut anaknya direkrut kelompok radikal,” terang Ken.

Karena kewaspadaan yang berlebihan akhirnya anak mereka tidak dibekali ilmu agama yang otomatis akan terancam dengan bahaya baru, misalnya narkoba, pergaulan bebas, hoax dan lain sebagainya.

Ken berharap masyarakat memahami konsep Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ika, walaupun berbeda beda tetapi tetap satu, setiap agama bisa hidup damai saling berdampingan dengan toleransi tanpa adanya kecurigaan dari setiap pihak karena pada dasarnya tidak ada agama yang mengajarkan kebencian.

“Sehingga kita bisa tetap hidup berdampingan dengan semua saudara kita dari berbagai latar belakang apapun,” pintanya.

“Agama itu menjadi rahmat, ketika belajar agama otomatis ahlaknya menjadi baik, jadi kalau ada orang mengaku beragama tapi dia mengajarkan kebencian, hujatan dan caci makian hendaklah jangan di ikuti, saya yakin dia belajar dengan orang atau guru yang salah,” imbuhnya.

Ken berpesan, belajarlah agama dengan paripurna kepada ahlinya yang jelas. Soalnya, bila sudah sembunyi sembunyi, selalu menyalahkan orang lain, bahkan sampai dalam tahap mengkafirkan orang lain, Ken meminta untuk segera menolaknya.

“Tapi bila terus memaksa, laporkan ke aparat terdekat. Tolok ukurnya mudah, agama itu menjadikan pemeluknya menjadi tersenyum dan membuat orang tersenyum. Jadi, bila ada orang mengajarkan agama dengan pemarah, pemberontak berarti itu ajaran sesat. Jangan ikuti, karena bisa menyesatkan,” Terang Ken.

Ken Setiawan juga membuka ruang diskusi dan pengaduan masyarakat di hotline whatsapp 0898-5151-228. Tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.