Ken Setiawan: Radikalisme dan Terorisme Merusak Keharmonisan Antarumat Beragama



Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan menjelaskan bahwa radikalisme adalah paham atau ideologi yang menginginkan perubahan dengan menggunakan cara-cara kekerasan dalam memperjuangkan paham atau ideologinya.

Radikalisme dapat terlihat dari sikap-sikap yang cenderung intoleran (tidak mau menghargai pendapat & keyakinan orang lain), maupun fanatik (selalu merasa benar sendiri; menganggap orang lain salah), Jelas Ken.

Penetrasi radikalisme telah menyebar dengan cepat melalui media sosial, dapat berupa yang bersifat provokatif dengan kegiatan menyulut kebencian yang mengarah ke radikalisme, termasuk hasutan kepada orang banyak untuk melakukan aksi radikalisme dan terorisme.

Peningkatan penggunaan media sosial juga menimbulkan dampak negatif, dengan mudahnya penggunaan aplikasi media sosial, terjadi pula pergeseran operandi penyebaran radikalisme.

Tindakan-tindakan radikalisme dengan medsos cenderung sporadis, bahkan dengan target beragam dengan tidak memandang pendidikan tinggi, aparat pemerintahan dan maupun profesional.

Upaya penanggulangan yang efektif yaitu dengan preemtif (edukatif, kontra narasi, counter opini), preventif (memberi peringatan, mengendalikan isu, dll), represif (penetrasi aktif sebagai bentuk upaya untuk melakukan penangkalan penyebaran perspektif negatif & penegakan hukum), serta membuat cyber troops.

Kelompok radikal jumlahnya tidak banyak, namun mereka masif, terstruktur dan sistematis dalam bergerak, 24 jam tanpa henti mereka bergerak, terutama di medsos. Jelas.

Perlu langkah-langkah cepat, cerdas, terukur, terencana, terkoordinasikan dan massal guna menghadapi gerakan radikalisme dan terorisme.

Bila kalangan nasionalis dan moderat diam, maka kelompok radikalisme atas nama agama akan meningkat.

Paham radikalisme dan terorisme menurut Ken Setiawan memang tidak bisa dihilangkan, bahkan negara maju sekelas Amerika Serikat dan Selandia Baru pun pernah kecolongan dengan kasus terorisme yang menelan banyak korban.

Kelompok radikalisme juga memiliki banyak cara untuk menyebarkan pahamnya, termasuk melalui dunia maya dengan menyisipkan konten-konten radikal yang mampu membius orang untuk mengikutinya.

Namun demikian, radikalisme dan terorisme bisa dikikis sedikit demi sedikit dengan penguatan pendidikan sejak dini, setidaknya mulai dari lingkup keluarga yang mengajarkan toleransi dan penghormatan atas kemajemukan.

Para pemuka agama juga berperan menyampaikan dakwah yang menyejukkan dan memberikan pemahaman agama secara utuh agar masyarakat tidak mudah terpengaruh dengan ajakan provokasi dari kelompok-kelompok radikalisme dan terorisme.

Selama ini, menurut pemetaan NII Crisis Center, justru banyak pemuka agama yang cenderung terpapar dan menyebarkan pahamnya di lingkungan lewat ceramah keagamaan, seperti kotbah jumat yang menyerang pemerintah, ini sangat berbahaya bila dibiarkan. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *