Seorang Guru Ditangkap Densus 88 Terduga Teroris Jaringan JI



Seorang Guru Ditangkap Densus 88 Terduga Teroris Jaringan JI

Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan mengaku tidak kaget setelah ada seorang guru ditangkap tim Densus 88 Mabes Polri, sebab sebelumnya juga banyak kasus seorang guru ASN yang terpapar radikalisme dan terorisme di Probolinggo, Tasikmalaya dan Bandar Lampung.

Menurut Ken, kini di medsos juga lagi viral terkait pakaian ASN yang menggunakan baju Korpri ala gamis dan celana cingkrang yang menurutnya sudah melanggar aturan tentang pakaian dinas ASN. Selain melanggar aturan, ini akan merusak budaya nasional.

Sebelumnya diberitakan seorang terduga teroris berinisial AYR ditangkap Densus 88 Antiteror, AYR bekerja sebagai guru. AYR dikenal sebagai orang yang ramah dan terbuka di masyarakat sekitar.

“Keseharian tidak masalah dan bukan orang eklusif termasuk istrinya, tidak ada hal mencuriagaan yang mengindikasi mengarah aktifitas teroris.

AYR dan istrinya adalah seorang guru. Di rumah tersebut mereka itu juga membuka bimbingan belajar untuk anak sekolah.

Menurut Ken, tahun 2018 Densus 88 menangkap terduga teroris HSA yang merupakan guru ASN yang mengajar bahasa inggris di SMKN 1 Kotaanyar, Kota Probolinggo.

Pada tahun 2020 juga ada penangkapan kepada MR, seorang guru SMK di kota Tasikmalaya.

MR dikenal santun dan selalu aktif di bidang keagamaan, terutama pada kegiatan masyarakat Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di kampungnya, dia dikenal baik dan dikagumi oleh masyarakat, tak menunjukan gelagat bahwa dia adalah terduga teroris, semua kaget saat MR ditangkap Densus 88.

Tahun 2020 di Bandar Lampung juga ada penangkapan terduga terorisme yang ditangkap Densus 88 diketahui berinisial SG. Ia ditangkap sekitar pukul 11.30 WIB di Gang Banten, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Bandarlampung.

Terduga terorisme di Bandar Lampung itu ditangkap saat akan berangkat shalat Jumat, SG dikenal oleh warga setempat dengan kesehariannya yang ramah.

Selain guru, dia juga buka jasa bekam panggilan dan rukiah,” Kata Ken.

Ini tantangan untuk pemerintah lewat Kementrian dan Lembaga terkait untuk membersihkan lingkungan pendidikan dari bahaya radikalisme dan terorisme. Tutup Ken.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *