Kisah Dosen Pernah Direkrut Oleh Kelompok Negara Islam Indonesia di Bandung



Namanya Khadijah (Samaran), saat ini tinggal di Bandung, lulusan kuliah dari kampus Telkom, tepatnya IM TELKOM. Saat ini mengajar kelas malam di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung.

Kesibukan Khadijah yang lain pagi-sore di laboratorium simulasi di salah satu universitas swasta di Bandung, penelitian ilmiah, ikut organisasi alumni di IM TELKOM di divisi pengabdian masyarakat, mengajar di panti, jalan-jalan ke toko buku, belajar bersama adik kelas yang belum pada lulus skripsinya, dll.

Cerita bermula dari..
Pada saat masih kuliah, Khadijah kenal dengan seorang teman, sebut saja namanya Aisyah (nama samaran).

Khadijah mengenal nya di halaman masjid TELKOM gegerkalong setelah kajian minggu pagi. Waktu itu sedang menawar-nawar kerudung yang akan di beli, dan Aisyah juga sedang menawar kerudung yang sama di sebelah.

Kenalan pun berlanjut, dan akhirnya mereka sering silaturahmi satu sama lain. Karena waktu itu Khadijah masih aktif di salah satu MLM, otaknya langsung berputar cepat “Waaah prospek nih” tak begitu lama, Putri menelfon teteh Aisyah untuk presentasikan bisnis MLM.

“Waah kayaknya gak tertarik bisnisnya nih” langsung ditawarkan produk dan Saya pinjamkan tools bisnis, cerita-cerita orang yang sukses di Bisnis MLM ini siapa tahu Si Aisyah bisa gabung suatu ketika.

Komunikasi berlanjut dan kemudian Aisyah memutuskan untuk menjadi konsumen produk saja, semenjak itu hubungan dengan mereka intens, apalagi Aisyah menawarkan mengaji bersama, karena semenjak di Bandung Khadijah jarang mengaji.

Khadijah pun mengiyakan, pertemuan-pertemuan mengaji pun sering diadakan, ekspektasi Khadijah ketika itu adalah mengaji tafsir, atau kitab gundul (safinah, taalim, duror, dll), atau fiqih, dll.

Diskusi sering diadakan dengan teman-teman yang lain, Aisyah mengajak untuk membawa teman untuk mengaji, waktu itu tanpa pikir panjang Khadijah membawa salah satu rekan, namanya Mbak Warteg (mbak-mbak yang suka masak di warteg langganan jaman-jaman kuliah, karena baik banget lama-kelamaan kami berteman).

Video-video perjuangan Nabi dan perjuangan di timur tengah diputarkan ketika mereka ngumpul, diskusi tentang agama, Khadijah pun ikuti apa isi diskusi, mengenai negara Indonesia dan Negara Islam Indonesia.

“Kamu kan banyak teman, supel, ajak aja yang lain untuk ngaji” Khadijah mulai berfikir sejak saat itu, kenapa ajak-ajak temen dan mendesak.

Khadijah waktu itu dibilang bandel oleh Aisyah, karena sering absen ketika ada ngumpul dan panggilan untuk ngumpul.

Waktu Khadijah semakin tentatif karena nyambi kuliah dan MLM, karena kudu presentasi kemana-mana, pertemuan, bantuin downline untuk closing pelanggan, dan menghadiri acara-acara pertemuan untuk upgrading.

Singkat cerita, Khadijah lupa critanya gimana, kok sampai bisa melakukan ini:
Khadijah diajak teteh ke suatu tempat (waktu itu belum paham tempat-tempat di Bandung) mungkin klo diingat sepintas saat ini, tempat itu adalah Antapani Bandung.

Khadijah diantar pagi-pagi, kemudian karena Aisyah ada urusan lagi, Khadijah ditinggal di pinggir jalan kecil, waktu itu Aisyah menuturkan ada teman nya yang menjemput.

Dan benar, ada temen Aisyah yang menjemput, seorang wanita berkerudung dan mengajak Khadijah ke suatu rumah. Di situ sudah berkumpul beberapa teman yang lain, yang sedang menunggu.

Singkatnya.. Khadijah mengucapkan syahadat di situ, di bimbing oleh seseorang (laki-laki usianya sekitar setengah baya) di sampingnya juga ada seorang laki-laki duduk mungkin asisten nya atau apalah saya gak ngerti.

Khadijah bersahadat temans,. Oh,.. sampai menangis dan ingat dosa-dosa sebelumnya. Alasan sahadat lagi simple, waktu itu, karena Khadijah kan agama Islam agama turunan, dari nenek moyang, bukan karena Khadijah yang ingin masuk Islam.

Dari lahir sudah dari keluarga muslim. Itu yang menjadikan Khadijah kudu sahadat lagi, jadi pengakuan Islamnya itu ya benar-benar, begitu kurang lebih penjelasan simple nya.

Khadijah merasa gerah, karena sering dihubungi untuk ngumpul-ngumpul ngaji dan bawa teman, dengan waktu yang tiba-tiba dan kudu dateng, Khadijah pun mulai bertanya-tanya ke Aisyah, apalagi waktu itu sudah mulai terdengar mengenai aliran sesat di Indonesia.

Khadijah menyengajakan membeli buku tentang aliran sesat, karena mulai curiga dengan Aisyah, sebaliknya Aisyah semakin gencar menghubungi dan mendatangi sampai ke kosan dll.

Khadijah diajak diskusi mengenai hal ini, kemudian Aisyah mempertemukan Khadijah dengan salah satu rekannya, laki-laki, usianya kurang lebih setengah baya, kita bertemu di PRV (Perumahan di Bandung, dari Polsek Sarijadi lurus terus ke arah parongpong).

Mereka diskusi mengenai perekrutan ngaji, beliau menganalogikan hal ini seperti MLM (ngrekrutnya seperti bisnis MLM yang sedang saya jalani).
“Kamu kan sudah berikrar, sebaiknya…” bla bla bla..punya tanggung jawab dll

Gerah semakin berlanjut karena kejadian ini semua Khadijah tidak boleh menceritakan kepada orang tua, ya karena tidak setiap orang bisa menerima hal ini (begitu alasan nya).

Khadijah bertanya frontal ke Aisyah:
“Teh, kok ngajinya jadi kayak gini sih, ini airan sesat bukan sih, ada pake sahadat lagi juga, pake sembunyi-sembunyi lagi, kan dakwah juga gak gitu, Ustadz ustadz berdakwah juga gak sembunyi-sembunyi, di TV malah ada tabligh tuh, mereka-mereka gak sembunyi-sembunyi, waktunya tentatif banget, klo kita lagi ada urusan, masa harus ditinggalin, padahal kita sudah janji dengan orang sebelumnya, apa memang gini caranya?

Klo bukan aliran sesat, apa donk ini?” usia muaa membuat Khadijah bilang dulu tanpa mikir dulu.

Tentu saja Aisyah tidak mengiyakan, dan Khadijah tidak mendapat jawaban yang di inginkan, Khadijah menyadari sekarang bahwa tidak mendapat informasi banyak mengenai hal ini.

Satu kejadian lagi, waktu itu sebelum Khadijah berikrar sahadat, Khadijah mengikuti pertemuan di daerah Pajajaran Bandung. Di situ berkumpul banyak sekali, seperti kajian, mereka dikelompokkan ke dalam ruangan kelas.

Ruangan yang di tempati Khadijah berisi akhwat semua, dan dibimbing untuk berdiskusi seorang ikhwan usianya mungkin 30 tahun an lah.

Sampai saat ini, karena Khadijah bandel dan sering absen, masih sering dikontak oleh Aisyah, dan didatangi untuk bersilaturahmi. Khadijah mulai netral dalam menanggapi, tidak melawan, dan saya tidak menerima.

Hanya mendengarkan, yang baik saya ambil, yang kurang baik Khadijah diskusikan dengan guru mengaji dan rekan-rekan yang lain, lebih saya saring dalam-dalam apa arti diskusi itu.

Sudah beberapa bulan belakangan kami jarang komunikasi, tapi ya tetap kadang Aisyah main bareng aa (suami Aisyah untuk mengingatkan ikrar waktu itu). Khadijah diam, lebih menyaring, dan tidak berkomentar.

Khadijah mulai jarang disuruh membawa teman untuk mengaji, hanya saja caranya beda, minta dikenalkan ke temen-teman Khadijah, bukan meminta mengajaknya.

Hal ini tidak dilakukan karena Khadijah masih penasaran, sebenarnya jika memang ini aliran sesat pun belum tahu namanya apa, pokoknya Negara Islam Indonesia, karena waktu itu ego lebih besar daripada kesabaran untuk menunggu informasi mengenai “paham” tersebut.

Khadijah berharap masyarakat waspada perekrutan kelompok radikal, jangan lengah dan kritis terhadap berita yang kita terima, dialog dengan orang lain bila mendapatkan materi yang tidak di mengerti agar tidak terjebak oleh tipu daya kelompok radikalisme atas nama agama.

Punya pengalaman direkrut kelompok radikalisme ?

Bisa share kisahnya ke
Hotline NII Crisis Center
WhatsApp 08985151228

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *