Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Jaringan JAD Indramayu



Densus 88 menangkap Terduga teroris dengan isinial WHK yang merupakan jaringan JAD Indramayu. Terduga saat diamankan tinggal di kediamannya, Dusun Karanganyar Timur, RT 01/01, Desa Sukamandijaya, Ciasem, Kabupaten Subang.

Ia diketahui mantan karyawan pabrik di wilayah Cikarang, tapi menjadi korban PHK akibat pandemi Covid-19.

Pendiri NII Crisis Center yang juga merupakan mantan aktifis NII, Ken Setiawan mengatakan bahwa kini banyak mantan NII yang bergabung ke Jaringan teroris, termasuk JAD.

Ken juga menyebut kalau di NII itu ada doktrin perang tapi faktanya tidak perang perang, akhirnya banyak yang kecewa akhirnya masuk ke jaringan teroris, termasuk JAD.

Beberapa penangkapan jaringan JAD, Ken menyebut adalah bagian jaringan NII yang lompat ke JAD karena dianggap mengakomodir pemikiran jihad mereka yang selama ini terpendam, termasuk jaringan JAD Batang Jawa Tengah yang beberapa waktu ditangkap Densus adalah sekeluarga merupakan mantan NII KW9 Alzaytun Indramayu.

Ken menyebut orang orang di NII itu memang belum ada doktrin untuk jihad membuat bom, termasuk bom bunuh diri, tapi yang kecewa dari NII lalu gabung ke kelompok teroris itu banyak banget.

Mantan NII itu seperti buah yang matang, siap petik dan bila bergabung ke kelompok teroris seperti JAD, maka orang orang JAD tak perlu didik lagi, karena doktrin NII sudah benci kepada aparat dan pemerintah.

Menurut Ken, teroris memang berbahaya, tapi bila akar pemikiran dan pemahaman intoleransi dan radikalisme dibiarkan, maka mereka juga berpotensi menjadi teroris.

Ketika Ken keluar, data anggota NII Komandemen wilayah 9 katanya lebih dari 250 ribu jamaah, terdata dna ada ktpnya. Setelah Ken dan kawan kawan keluar, ribuan jamaah juga banyak yang ikut keluar.

Jadi menurut Ken, ada ribuan para mantan NII yang tersebar dimasyarakat dan yang secara ekonomi habis habisan karena untuk infak di NII, orang orang ini sudah terlatih mental dan keberanian, bila para mantan NII direkrut jaringan teroris maka ini sangat berpotensi menimbulkan teroris teroris baru. Jelas Ken.

Selama ini menurut Ken, yang di perhatikan oleh negara adalah para mantan teroris yang pernah menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan, bahkan ketika keluar dari penjara pun hidupnya dijamin oleh negara bila mengikuti program deradikalisasi.

Sementara para mantan NII selama dianggap tidak berbahaya, padahal mereka sangat berpotensi bergabung ke kelompok teroris karena sebenarnya induk dari persoalan terorisme di Indonesia adalah pemikiran NII atau DI TII yang di proklamirkan oleh SM Kartosuwiryo, termasuk affiliasinya NII dengan ideologi transnasional salafi wahabi jihadi atau Ikhwanul Muslimin. Tutup Ken.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *