Menantu Anggota NII, Seorang Kakek dilarang Bertemu Anak dan Cucunya Selama 3 Tahun



Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan mengaku banyak mendapatkan laporan dari masyarakat terkait masyarakat yang menjadi korban gerakan NII akhir akhir ini.

Salah satunya pelapor ke NII Crisis Center adalah Kakek Tejo (Nama Samaran) yang hidup sebatang kara, istrinya sudah meninggal lima tahun yang lalu.

Kakek Tejo punya 2 orang anak, Slamet dan Aminah (Nama Samaran)

Slamet anak Pertama Kakek Tejo sudah berkeluarga dan tinggal di luar pulau Jawa. Sedangkan anak kedua yaitu Aminah dan keluarganya tinggal satu komplek dengan Kakek Tejo.

Masalahnya adalah sudah 3 tahun kakek Tejo tidak boleh bertemu dengan anaknya Aminah dan Cucunya, padahal satu komplek, itu disebabkan dilarang oleh menantunya AlFatih (Nama Samaran) yang diketahui ikut ke gerakan NII.

Awal keretakan hubungan antara kakek anak, menantu dan cucu adalah ketika tiga tahun yang lalu sang anak dan menantu datang kerumah kakek untuk meminta warisan dan agar rumah kakek dijual, sementara kakek diminta tinggal dirumah Aminah dan keluarga.

Kakek tidak mau karena sudah tahu kalau menantunya adalah anggota NII dan cucunya juga di sekolah alzaytun Indramayu Jawa Barat.

Setelah terjadi peedebatan, akhirnya sepakat tidak dijual dan dengan marah Aminah dan keluarganya meninggalkan kakek Tejo sendiri.

Ketika kakek Tejo mencoba untuk bertemu karena kangen dengan anak dan cucunya tapi tidak diperbolehkan sang menantu.

Bahkan oleh sang menantu, cucu kakek tejo itu di doktrin bahwa kakek Tejo adalah orang jahat, jadi tidak boleh bertemu. Jadi sampai sekarang dari tiga tahun yang lalu belum bertemu dengan cucunya.

Kakek Tejo tak henti henti berdoa agar anak dan menantunya mendapatkan hidayah, supaya dirinya bisa bertemu dengan anak dan cucunya sebelum menghadap sang khalik. Kakek kakek paham kalau anak dan menantu telah belajar dengan guru yang salah.

Menurut Ken, banyak sekali kisah serupa karena salah satu kelurargnya terlibat NII, karena dalam doktrin NII, siapapun yang ada di luar kelompok NII adalah orang kafir, termasuk keluarga sendiri juga dianggap kafir bila belum berbaiat kepada bersamanya.

Kelompok NII oleh pemerintah tidak dianggap berbahaya karena dianggap hanya paham radikal, yang di prioritaskan adalah yang sudah melakukan tindakan makar. Padahal NII adalah bibitnya, bila bibitnya tidak dicabut maka kasus terorisme menurut Ken tidak akan berakhir.

Bila ada yang punya kisah pernah direkrut atau pernah aktif di NII. Bisa share kisahnya di hotline NII Crisis Center 0898-5151-228. Tutup Ken.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *