Ken Setiawan: Paham Radikalisme dan Anti Pancasila di Lampung Capai Ribuan Orang



Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan yang berdomisili di Bandar Lampung mengaku prihatin terhadap fenomena pergerakan kelompok radikal di Wilayah Lampung.

Sepertinya pemerintah dan aparat telah abai terhadap persoalan radikalisme di Lampung, padahal faktanya puluhan teroris telah ditangkap densus 88 yang jelas berlatar belakang Jamaah Islamiyah JAD dan ISIS jelas membuktikan bahwa Lampung adalah salah satu basis, ditambah lagi munculnya organisasi bibit terorisme diantaranya NII, HTI, Ihwanul Musmilin dan Khilafatul Muslimin juga menyebar di 15 kabupaten kota se Lampung.

Hampir setiap kejadian penangkapan teroris di Lampung, masyarakat sekitar tidak ada yang mengenal pelaku, padahal sudah tinggal dirumah tersebut cukup lama, termasuk perangkat pemerintah setempat, ini membuktikan bahwa aparat pemerintah telah abai dan tidak perduli terhadap permasalahan ini.

Menurut Ken, kalau kelompok teroris itu biasanya sudah dipantau dan bisa ditindak oleh densus 88, di dunia pokoknya nomer 1 deh terkait penindakan terorisme.

Tapi kalau hanya paham dan pemikiran radikal itu belum bisa ditindak oleh densus 88 sebelum melakukan tindakan atau aksi terorisme.

Kalau hanya radikalisme dipemikiran atau berupa paham seperti yang di lakukan oleh kelompok NII, HTI, Ikhwanul Muslimin dan Khilafatul Muslimin maka belum bisa ditindak dengan pasal terorisme, UU no 5 Tahun 2018 tentang pemberantasan terorisme belum bisa menindak paham atau pemikiran radikalisme. Inilah lemahnya hukum di Indonesia. Jelas Ken.

Menurut data NII Crisis Center jumlah kelompok radikalisme di Lampung jumlahnya sudah mencapai ribuan.

Di desa Sidodadi Asri saja data awal 30 korban dan dikembangkan menjadi ratusan, padahal di Kecamatan Jatiagung itu ada 21 desa, dan dikecamatan Jatiagung ini lengkap sekalain teroris yg ditangkap beberapa waktu yang lalu, kelompok NII juga ada, HTI ada, Ikhwanul Muslimin ada dan Khilafatul Muslimin

Bahkan dikecamatan Jatugung Khilafatul Muslimin juga paling besar karena telah membangun Kampung Khilafah yang luasnya kurang lebih 5 hektar yang dihuni oleh jamaah khilafatul muslimin, sekarang sedang persiapan membangun rumah sakit khilafatul muslimin.

Satu kecamatan saja kalau di akumulasi dari beberapa kelompok seperti NII, HTI , IMI. dan Khilafatul Muslimin saja jumlahnya sudah ribuan, kalau di kali dengan 15 kabupaten kota se Lampung jumlahnya cukup banyak juga, sebab masing masing kelompok telah menyebar ke 15 kabupaten/ kota, bahkan Khilafatul Muslimin pasang plang disetiap kecamatan kecamatan di 15 kabupaten yang ada kelompok mereka.

Bagi Ken yang pernah menjalani hidup di NII merasa semua organisasi radikslisme tersebut adalah ancaman walaupun mereka belum melakukan tindakan atau aksi teror. Tapi selangkah lagi mereka akan menjadi teroris bila ketemu dg kelompok JI JAD atau isis karena pemahaman radikal di pemikiranya adalah modal dasar untuk jadi teroris.

Ken berharap pemerintah segera mengakuarkan regulasi yang melarang paham NII dan Khilafah seperti TAP MPR dengan mencegah penyebaran paham radikalisme atas nama agama. Jangan sampai Indonesia hancur seperti Suriah dan Libya karena pembiaran kelompok radikalisme yang memanipulasi agama dan mengadu domba anak bangsa.

Kelompok radikal sejatinya bukan pembawa risalah agama, tapi mereka adalah pemberontak atas nama, mereka ingin berkuasa dengan dalih agama, mereka ingin mengganti Pancasila dengan Negara Islam atau Khilafah.

Jadi siapapun pemimpin negara kita, mau berganti berapa kalipun jika masih ada Pancasila maka akan terus mereka perangi, dan jahatnya kelompok radikalisme atas nama agana adalah para jamaahnya dimiskinkan hartanya alasan infak mendirikan negara Islam, dirusak ahlaknya dengan mengkafirkan orang lain dan dihancurkan masa depannya karena keluar dari sekolah kampus dan perkerjaan karena aktif di kelompok radikal. Jadi bisa disebut sebuah tragedi kemanusiaan atas nama agama. Tutup Ken.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan yang berdomisili di Bandar Lampung mengaku prihatin terhadap fenomena pergerakan kelompok radikal di Wilayah Lampung.

Sepertinya pemerintah dan aparat telah abai terhadap persoalan radikalisme di Lampung, padahal faktanya puluhan teroris telah ditangkap densus 88 yang jelas berlatar belakang Jamaah Islamiyah JAD dan ISIS jelas membuktikan bahwa Lampung adalah salah satu basis, ditambah lagi munculnya organisasi bibit terorisme diantaranya NII, HTI, Ihwanul Musmilin dan Khilafatul Muslimin juga menyebar di 15 kabupaten kota se Lampung.

Hampir setiap kejadian penangkapan teroris di Lampung, masyarakat dan pemerintah setempat tidak ada yang mengenal pelaku, padahal sudah tinggal dirumah tersebut cukup lama, bahkan ada yang tahunan, ini membuktikan bahwa aparat pemerintah telah abai dan tidak perduli terhadap permasalahan ini.

Menurut Ken, kalau jaringan kelompok teroris itu biasanya sudah dipantau dan bisa ditindak oleh densus 88, di dunia pokoknya nomer 1 juaranya terkait penindakan terorisme. Tidak ada tandingnya.

Tapi kalau hanya paham dan pemikiran radikal itu masalahnya belum bisa ditindak oleh densus 88 sebelum melakukan tindakan atau aksi terorisme.

Kalau hanya radikalisme dipemikiran atau berupa paham seperti yang di lakukan oleh kelompok NII, HTI, Ikhwanul Muslimin dan Khilafatul Muslimin maka belum bisa ditindak dengan pasal terorisme, UU no 5 Tahun 2018 tentang pemberantasan terorisme belum bisa menindak paham atau pemikiran radikalisme. Inilah lemahnya hukum di Indonesia. Jelas Ken.

Menurut data NII Crisis Center jumlah kelompok radikalisme di Lampung jumlahnya sudah mencapai ribuan.

Di desa Sidodadi Asri saja data awal 30 korban dan dikembangkan menjadi ratusan, padahal di Kecamatan Jatiagung itu ada 21 desa, dan dikecamatan Jatiagung ini lengkap sekalain teroris yg ditangkap beberapa waktu yang lalu, kelompok NII juga ada, HTI ada, Ikhwanul Muslimin ada dan Khilafatul Muslimin

Bahkan dikecamatan Jatugung Khilafatul Muslimin juga paling besar karena telah membangun Kampung Khilafah yang luasnya kurang lebih 5 hektar yang dihuni oleh jamaah khilafatul muslimin, sekarang sedang persiapan membangun rumah sakit khilafatul muslimin.

Satu kecamatan saja kalau di akumulasi dari beberapa kelompok seperti NII, HTI , IMI. dan Khilafatul Muslimin saja jumlahnya sudah ribuan, kalau di kali dengan 15 kabupaten kota se Lampung jumlahnya cukup banyak juga, sebab masing masing kelompok telah menyebar ke 15 kabupaten/ kota, bahkan Khilafatul Muslimin pasang plang disetiap kecamatan kecamatan di 15 kabupaten yang ada kelompok mereka.

Bagi Ken yang pernah menjalani hidup di NII merasa semua organisasi radikslisme tersebut adalah ancaman walaupun mereka belum melakukan tindakan atau aksi teror. Tapi selangkah lagi mereka akan menjadi teroris bila ketemu dg kelompok JI JAD atau isis karena pemahaman radikal di pemikiranya adalah modal dasar untuk jadi teroris.

Ken berharap pemerintah segera mengakuarkan regulasi yang melarang paham NII dan Khilafah seperti TAP MPR dengan mencegah penyebaran paham radikalisme atas nama agama. Jangan sampai Indonesia hancur seperti Suriah dan Libya karena pembiaran kelompok radikalisme yang memanipulasi agama dan mengadu domba anak bangsa.

Kelompok radikal sejatinya bukan pembawa risalah agama, tapi mereka adalah pemberontak atas nama, mereka ingin berkuasa dengan dalih agama, mereka ingin mengganti Pancasila dengan Negara Islam atau Khilafah.

Jadi siapapun pemimpin negara kita, mau berganti berapa kalipun jika masih ada Pancasila maka akan terus mereka perangi, dan jahatnya kelompok radikalisme atas nama agana adalah para jamaahnya dimiskinkan hartanya alasan infak mendirikan negara Islam, dirusak ahlaknya dengan mengkafirkan orang lain dan dihancurkan masa depannya karena keluar dari sekolah kampus dan perkerjaan karena aktif di kelompok radikal. Jadi bisa disebut sebuah tragedi kemanusiaan atas nama agama.

Bagi Ken, tidak ada istilah Aman terkait potensi radikalisme di Indonesia, justru ketika kita merasa aman maka itu adalah bahaya terbesar yang siap mengancam, karena jika merasa aman, kita cenderung lengah. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published.