Kisah Pekerja Bangunan di Bandar Lampung Ingin Bantu Orangtua Kandas Karena Gabung NII



Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengaku prihatin dengan fenomena NII yang akhir akhir ini muncul di media dan begitu masif, pasalnya bukan hanya kalangan terpelajar sekolahan dan mahasiswa, tapi perekrutan NII juga menyasar kalangan buruh, ini yang menurut Ken lepas dari pantauan orang tua dan aparat.

Kalau kalangan pelajar dan mahasiswa ketika terjadi penyimpangan perilaku biasanya terdeteksi orang tua, misalnya biasanya pulang sore tiba tiba pulang, terus selalu minta dana untuk keperluan yang tidak jelas, tapi kalau kalangan pekerja buruh yang tinggal dikontrakan siapa yang bisa memantau, mau nggak pulang ke kontrakan sehari, seminggu bahkan sebulan juga tidak ada yang mencari, paling yang cari pemilik kontrakan karena harus bayar bulanan.

Di kelompok NII menurut Ken memang belum bicara teror seperti membuat bom dan rakit senjata, tapi orang yang gabung di NII sudah punya bekal benci kepada negara, aparat dan pemerintah, semua taghut dan kafir, ketika mereja kecewa lalu keluar NII, maka berpotensi direkrut kelompok teroris JI, JAD dll, mereka seperti buah yang sudah matang, siap dipetik oleh kelompok teroris. Jelas Ken.

Salah satu korban NII dari kalangan buruh sebut saja Putra (nama samaran) dari salah satu kabupaten yang merantau ke ibu kota provinsi Lampung.

Putra berniat merantau untuk membantu ekonomi keluarga dan adik adiknya untuk melanjutkan sekolah.

Disaat libur, putra berkumpul dengan sahabatnya beserta dengan kenalan baru di Bandar Lampung. Putra bersyukur dapat bertemu dengan sahabat barunya yang ternyata dianggap paham dan mengerti tentang agama. Akhirnya Putra memutuskan ikut bersama salahsatu komunitas bertema HIJRAH karena penasaran dan ingin belajar lebih dalam tentang agama Islam.

Awalnya semua baik baik saja, kajian kajian bagus dan tema hijrah awalnya juga ditafsirkan pindah dari yang batil ke yang haq, intinya sebagai manusia harus fitrah, ciptaan Allah harus mematuhi aturan didalan Alquran.

Setelah sekian lama bergabung, putra mendapatkan kejanggalan dan keanehan, karena yang dibahas bukan masalah agama, tapi masalah negara Islam, dia harus infak yang cukup besar untuk mendukung program negara dan diminta untuk mengajak sahabatnya untuk bergabung di NII.

Putra bingung ketika keluarga minta bantuan dana sementara dana dari gajian sudah diberikan untuk infak NII, akhirnya terpaksa berbohong kepada keluarga kalau saat ini ada kebutuhan mendesak jadi belum bisa membantu keluarga, bahkan putra sudah berani berhutang kesana kemari kepada sahabatnya di proyek untuk kebutuhan Infak NII tersebut.

Disaat tak sengaja Putra mendapatkan pesan whatsapp dari sahabatnya tentang bahaya NII oleh Ken Setiawan dari NII Crisis Center dan kebetulan ada kontak hotline whatsall di 0898-5151-228 sehingga Putra langsung menghubungi dan mempertanyakan apakah NII yang saat ini di lakoni bersama kawan kawan tersebut termasuk aliran sesat dan menyesatkan ?

Setelah mendapatkan jawaban dari NII Crisis Center, Putra akhirnya minta bertemu dengan tim NII Crisis Center, setelah ketemu Putra semakin yakin bahwa apa yang di lakoni adalah salah dan harus ditinggalkan.

Putra menyadari bahwa yang dilakukannya merupakan makar mendirikan negara dalam negara atau pemberontak atas nama agama, korban NII itu akan dimiskinkan hartanya atas nama infak, dirusak ahlaknya, yang tadinya anak baik tiba tida mengkafirkan semua orang termasuk orang tua, dan yang paling jahat adalah dihancurkan masa depanya.

Menurut Putra, jumlah jamaah NII sudah mencapai ratusan dikota Bandar Lampung, termasuk kalangan palajar dan mahasiswa, bahkan ada oknum dosen disalah satu kampus di Bandar Lampung.

Putra berpesan agar masyarakat waspada terhadap bahaya NII sebab mereka bisa saja ada disekitar kita karena mereka itu bunglon, tidak punya ciri ciri fisik secara khusus bahkan aparat pun mungkin saja tidak mendeteksi mereka karena mereka membaur dengan masyarakat. Tutup Putra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *