Ken Setiawan: Ancaman Radikalisme dan Terorisme dalam Genggaman Kita



Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT RI) menggelar silaturahmi kebangsaan dengan tema Bersama Membangun Harmoni Bangsa di kota Tangerang. Salah satu yang hadir istimewa yaitu adalah Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dari Pekalongan Jawa Tengah.

Sebagai penyelenggara silaturahmi kebangsaan adalah Deputi I BNPT RI dan Direktur Pencegahan Brigjen Pol Ahmad Nur Wahid, kasubdit kontra dan propaganda beserta jajaran,

Hadir juga Wakil Gubernur Banten, Walikota dan Wakil Walikota Tangerang dan sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat perwakilan ormas provinsi Banten.

Hadir pula undangan dari Lampung yaitu Direktur Radar Lampung H. Ardiansyah, Ust Suparman dan Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan.

Masing masing tokoh diminta pendapatnya tentang tema membangun harmoni bangsa.

Ada hal yang unik adalah saat Brigjen Pol Ahmad Nurwahid meminta Ken Setiawan untuk menceritakan pengalaman saat menjadi NII dan harapan terhadap pemerintah terhadap fenomena radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Ken Setiawan dihadapan Habib Lutfi dan seluruh hadirin menyampaikan bahwa radikalisme terorisme itu menebarkan pahamnya menggunakan berbagai macam propaganda. Ayat-ayat Qur’an sering ditafsirkan dan diplintir maknanya sesuai kepentingan mereka sebagai modal mempengaruhi pola pikir masyarakat. Anggota yang jadi sasaran rekrutmen juga dicuci otaknya melalui doktrin-doktrin agama.

Ken menyebut bahwa radikalisme dan terorisme mendoktrin anggotanya dengan membentur-benturkan sistem, peraturan, dan hukum negara di Indonesia dengan hukum Islam dan Al-Qur’an.

Mereka juga masuk ke berbagai lembaga dan instansi seperti sekolah, perguruan tinggi, dan birokrasi. Mereka juga gencar melakukan penetrasi melalui media sosial dengan memproduksi konten-konten narasi propaganda, hoaks, dan ujaran kebencian.

Mereka menyatakan orang di luar kelompoknya dianggap sebagai orang kafir atau musuh yang harus diperangi.

Bahkan mereka memghalalkan segala cara dengan aksi kriminal seperti mencuri merampok orang diluar kelompoknya disebut halal, harta orang kafir menurut Ken dahulu adalah halal, boleh diambil paksa dicuri atau dirampok. Kalau melihat di TV ada berita pembantu baru kerja satu hari lalu gasak harta majikan maka itu ulah kelompok NII dijaringanya, bahkan sehari beraksi lima tempat pernah mendapat hasil merampok diatas 1 milyard. ujar Ken.

Ken berharap masyarakat waspada waspada sebab saat ini perekrutan kelompok radikalisme memanfaatkan alat komunikasi, bahkan bisa disebut bahwa dunia dalam genggaman, banyak berita mengandung konten radikalisme dan hoax berseliweran disekitar kita. Ujar Ken.

Acara yang terakhir adalah acara inti yang ditunggu oleh semua hadirin yaitu nasehat dari Habib Muhammad Lutfi Bin Yahya.

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya mengatakan, Indonesia Raya bukan sekadar lagu, tetapi ikrar bahwa Indonesia merupakan tanah air dan tumpah darah yang dimiliki semua suku dan golongan di negeri ini.

“Kita telah berikrar Indonesia tanah airku, buktikan ikrar itu kemanapun kalian (anak bangsa) melangkah, itu bukan hanya sekadar lagu tetapi harus tertanam pada diri kita,” ujar Habib Luthfi

Jika ikrar kebangsaan tersebut tertanam pada diri anak cucu generasi bangsa, maka penyakit radikalisme dan intoleransi yang melenceng dari nilai pokok Pancasila tidak akan menjangkiti kerukunan negeri ini. Tutup Habib Lutfi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.