Gelar FGD Penguatan Moderasi Beragama dan Ideologi Pancasila, Polda Lampung Hadirkan Pendiri NII Crisis Center



Direktorat Pembinaan Masyarakat Polda Lampung bersama Polres Kota Metro mengadakan Focus Grup Discussion (FGD) dengan tema penguatan moderasi beragama dan ideologi Pancadila guna mencega, menangkal dan menanggulangi radikalisme dan intoleransi di Hotel Grand Aidea Kota Metro, Kamis (9/12/2021).

Kegiatan dibuka oleh Direktur Binmas Polda Lampung Kombes Pol Anang Triarsono, S.I.K., M. Si

Dalam sambutanya Kombes Anang mengajak masyarakat untuk berpartisipasi mengantisipasi penyebaran paham radikal dan anti Pancasila, demi menjaga keutuhan NKRI.

Sengaja dihadirkan mantan komandan NII Ken Setiawan yang kini mendirikan NII Crisis Center agar masyarakat menyadari betapa bahayanya paham radikalisme yang menfatasnamakan agama, terntunya agar masyarakat waspada, tapi tentunya jangan sampai pobia terhadap agama. Tambah Kombes Anang.

“Perlu dipahami oleh kita semua, bahwa dalam penyelenggaraan keamanan diperlukan partisipasi seluruh komponen masyarakat. Saat ini ancaman radikalisme dan anti Pancasila sudah memprihatinkan serta menjadi perhatian semua pihak,” katanya.

Kombes Anang mengatakan bahwa tokoh masyarakat, tokoh agama dan pemuda bisa mengambil bagian untuk mencegah gangguan Kamtibmas di masyarakat.

Sementara itu, salah satu narasumber pada kegiatan tersebut, mantan komandan organisasi terlarang Negara Islam Indonesia (NII) Ken Setiawan mengajak seluruh lapisan masyarakat yang hadir untuk bersama-sama memerangi paham-paham pemecah belah persatuan, dengan cara berpegang teguh pada Pancasila.

Ken Setiawan menekankan bahwa saat ini orang-orang yang terjebak dalam paham radikalisme, intoleransi dan anti Pancasila akibat salah bergaul atau dalah memilih guru, sehingga tersesat.

Ken menjelaskan bahwa paham radikalisme itu bisa menimpa siapa saja dan tidak dimonopoli oleh satu agama tertentu, dia akan muncul disuatu negara yang mayoritas, dan kebetulan di Indonesia mayoritasnya Islam dan banyak pelaku radikalisme dan terorisme beridentitas Islam, jadi seolah terorisnya adalah Islam. Padahal mereka tidak mewakili agama apapun, termasuk agama Islam, justru radikalisme yang mengatasnamakan agama adalah fitnah buat agama, terutama agama Islam.

Ken juga menyampaikan bahwa banyak masyarakat yang belum paham dengan definisi radikalisme, sehingga banyak yang memvonis orang dengan ciri ciri tertentu dengan sebutan radikal.

Padahal radikalisme sejatinya adalah sebuah paham yang menginginkan sebuah perubahan sosial politik dengan cara yang keras, ekstrem dan drastis.

Permasalahanya adalah kalau masih bersifat paham atau pemikiran, menurut Ken belum bisa ditindak dengan undang undang terorisme sebelum pelakunya melakukan tindakan teroris.

Makanya Ken Setiawan dkk mendorong pemerintah agar segera membuat regulasi yang melarang seluruh paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila agar bisa ditindak seperti layaknya paham dan ideologi komunis.

Kalau negara tidak tegas maka keberadaan kelompok radikalisme yang mengatasnakan agama akan semakin merajalela dan tidak mustahil negara kita akan menjadi seperti Suriah dan Libya yang kini hancur karena issu radikalisme atas nama agama. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *