Kuatkan Wawasan Kebangsaan Di Lingkungan ASN, Bakesbangpol Kota Metro Hadirkan Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan



Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Metro menggelar kegiatan Ngobrol Seputar Literasi (ngopi) dengan tema Kuatkan Wawasan Kebangsaan Di Lingkungan ASN yang selenggarakan pada hari Jumat 11 Maret 2022

Bakesbangpol menghadirkan tiga narasumber, diantaranya adalah Walikota Metro Dr. H. Wahdi Siradjuddin, Sp.OG Dandim 0411 Metro Letkol Inf Sihono dan Pendiri NII Crisis Center yang saat ini juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung Ken Setiawan

Kegiatan tersebut dimoderatori oleh Kak Andik dan Ibu Rosita yang merupakan kepala Badan Kesbangpol Kota Metro.

Dalam paparannya Ken Setiawan menyampaikan bahwa manfaat penguatan wawasan kebangsan adalah untuk mengoptimalkan pengembangan dan pelaksanaan nilai kebangsaan guna pemberdayaan dan penguatan kesadaran berbangsa dan bernegara, berlandaskan nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal lka, NKRI dan
Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.

Salah satu cara meningkatkan cara untuk meningkatkan wawasan kebangsan adalah dengan menyadari bahwa disekitar kita ada ancaman tantangan hambatan dan gangguan, salah satunya yang pernah dialami adalah persoalan bahaya radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama.

Ken menyebut bahwa radikalisme adalah sebuah paham yang menginginkan perubahan sosial politik dengan cara yang keras dan drastis.

Radikalisme mengatasnamakan agama tidak di monopoli oloh satu agama tertentu, dia akan tumbuh subur disebuah negara yang mayoritas, kebetulan Indonesia mayoritasnya adalah agama Islam, jadi seolah radikalisme seolah identik dengan Islam, padahal tidak. Jelas Ken.

Radikalisme mengatas namakan agama justru merupakan fitnah buat agama sebab sejatinya tidak ada agama apapun yang mengajarkan radikalisme dan terorisme.

Bahkan radikalisme ini sudah masuk disemua lini masyarakat, tidak pandang sisi usia, pendidikan bahkan dikalangan pemerintah dan aparat TNI/POLRI juga ada yang terpapar, fenomena Polri Cinta Sunnah dan TNI Cinta Sunah menjadi indikasi bahwa aparat kita mulai terpapar inroleransi dan radikalisme, kelihatan nyunah, padahal nyampah. Jelas Ken.

Hasil survey dari Alvara Research Center dan Mata Air Foundation cukup membuat kaget, hasilnya bahwa ada 19,4 persen PNS tidak setuju dengan Pancasila.

Bahkan BNPT belum lama ini merilis bahwa ada 31 PNS tersangka terorisme yang ditangkap berstatus sebagai abdi negara, diantaranya ada 8 Polri, 5 prajurit TNI dan Sisanya, 18 Aparatur Sipil Negara (ASN).

Ken menyebut 31 tersangka teroris itu telah tergabung dengan jaringan terorisme dan aktif dalam kegiatan-kegiatannya. Kegiatan yang dimaksud yakni perencanaan, pelatihan, penghimpunan dana, dan kegiatan lain berkaitan terorisme.

Sebanyak 31 tersangka tersebut telah masuk memenuhi unsur tindak pidana terorisme, sehingga bisa dilakukan penangkapan sebelum melakukan aksi teror yang sering disebut sebagai upaya preventif justice atau preventif strike untuk mencegah sebelum melakukan teror,” Tambah Ken.

Menurut Ken, persoalan terorisme di kalangan abdi negara perlu menjadi catatan yang harus menjadi perhatian khusus, angka 19,4 persen PNS yang teridentifikasi terpapar radikalisme itu bukan angka yang sedikit, jangan sampai naik level menjadi pelaku terorisme.

Salah satu cara untuk meningkatkan wawasan kebangsaan menurut Ken adalah dengan memasyarakatkan Pancasila, memang Pancasila bukan wahyu Ilahi, namun didalamnya sudah ada nilai nilai ajaran agama, misalnya sila pertama ketuhanan yang maha Esa, bahwa Tuhan kita satu, ditambah dengan Bhineka Tinggal Ika, walaupun kita berbeda agama, tapi kita punya Tuhan satu, Tuhan Kita sejatinya sama, hanya kita berbeda menyebut nama Tuhan dan berbeda cara beribadah.

Yang berbeda jangan disama samakan, karena syariat tiap agama memang berbeda, tapi yang sama tentang Tuhan maka jangan dibeda bedakan dan diantara umat beragama semua sepakat bahwa Tuhan mengajarkan Cinta dan Kasih kepada Umatnya.

Jadi sebenarnya diantara kita tidak ada persoalan, perbedaan kalau kita sikapi dengan baik akan menjadi anugerah, perbedaan harusnya menjadi sarana untuk saling mengenal dan saling melengkapi.

Seperti pelangi, walaupun berbeda beda, tapi ketika berjalan beriringian harmoni maka menjadi Indah. Jika masyarakat memahami dan menjalankan Pancasila, Bhineka Tingga Ika, NKRI dan UUD 1945 Insyaallah Indonesia aman dan damai. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published.