Ken Setiawan: Akar Terorisme adalah NII, Masih Miliki 2 Juta Pengikut di Indonesia



Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan juga menyampaikan bahwa jumlah pengikut NII di Indonesia saat ini mencapai 2 juta bahkan lebih, angka itu sesuai dengan yang disampaikan Putra Proklamator NII Sarjono Kartosuwiryo.

Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Garut KH Atjeng Abdul Wahid membuat statemen yang heboh, “PCNU punya 42 MWC (Majelis Wakil Cabang). Setelah di cek, dari 42 MWC (kecamatan) hanya 1 yang belum kemasukan (paham radikal NII),” artinya dari 42 Kecamatan di Kabupaten Garut hanya 1 Kecamatan yang steril dari NII karena adalah basis NU.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan juga belum lama ini menyampaikan bahwa Anggota Teroris NII di Sumatera Barat Berjumlah 1.125 Orang.

Ken menyebut bahwa memang setelah Kartosuwiryo di eksekusi, NII pecah dua kelompok, menjadi NII Fillah dan dan NII Fisabilillah.

NII Fillah setuju menghentikan kegiatan separatis mereka dan mendapat ampunan dari Soeharto, sedangkan kelompok kedua yaitu Fi Sabilillah menolak tawaran bergabung dan mengaku meneruskan perjuangan NII Kartosuwiryo hingga saat ini.

NII Fi Sabilillah adalah pewaris ideologi NII yang menyerukan jihad qital (perang fisik) untuk menegakkan hukum Allah. Mereka pecah ke banyak faksi. Ini terjadi sejak Daud Beureueh, imam NII yang dibaiat pada 1973, ditangkap aparat pada 1975.

Dulu awalnya NII hanya punya 7 Komandemen Wilayah (KW). KW1 Priangan Utara. KW2 Jawa Tengah. KW3 Jawa Timur. KW4 Kalimantan. KW5 Sulawesi. KW6 Aceh. KW7 Priangan Selatan. Adah Djaelani mengangkat dirinya sebagai Imam pada 1979. Dia mereorganisasi jamaah dan menambahkan dua KW: KW8 (Lampung) dan KW9 (Jakarta raya, Bekasi, Tangerang, dan Banten).

Tahun 1981, Adah ditangkap aparat. Kepemimpinan organisasi oleng. Ajengan Masduki diangkat menjadi Imam pada 1987. Loyalis Adah tidak terima. Abu Karim Hasan memimpin KW9 (1984-1992). Setelah itu diteruskan Rais Ahmad (1992-1996). Ajengan Masduki menggandeng Abdullah Sungkar, dan Abu Bakar Ba’asyir, kader Jawa Tengah yang direkrut oleh Hispran pada 1976.

Ajengan Masduki dulu kuat di jaringan Jawa Tengah, seperti Purwokerto, Surakarta, Subang, Cianjur, Jakarta, dan Lampung. Faksi lainnya Atjeng Kurnia, bekas ajudan Kartosuwiryo, yang mengontrol wilayah Bogor, Serang, Purwakarta, dan Subang. Abdul Fatah Wiranagapati, bekas pejabat KUKT (Kuasa Usaha Komandement Tertinggi), menguasai daerah Garut, Bandung, Surabaya dan Kalimantan. Gaos Taufik memimpin Pulau Sumatera.

Tahun 1994, Adah Jalelani bebas. Pada 1996, Adah membaiat Abu Toto, alias Panji Gumilang sebagai penggantinya. Jadilah dia Imam NII (KW IX), yang pusatnya di Ma’had Al-Zaytun, Haurgeulis, Indramayu.

Putra-putra Kartosuwiryo, Dodo M Darda dan Tahmid Rahmad Basuki, tidak setuju. Tapi Abu Toto alias Panji Gumilang ini juara. Dia jago nyari uang dan mengelola jaringan. Pondoknya menjadi langganan kunjungan para pejabat saat itu, bahkan hampir seluruh pejabat Orba datang ke Pesantren Alzaytun

Dari Malaysia, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir yang merupakan Pimpinan NII KW2 ganti baju dan mendirikan Jama’ah Islamiyah (JI). Namanya menjiplak organisasi jihadis asal Mesir bentukan Umar Abdurrahman. Sungkar mengirim kader-kadernya tadrib askari (diklat militer) ke Afghanistan. Jebolannya kemudian menggegerkan dunia dengan rentetan Bom Bali I, Bom Bali II, Bom JW Marriot, Bom Kedubes Australia, dll.

Tahun 1997 beberapa mantan pimpinan NII juga membuat organisasi baru bernama Khilafatul Muslimin yang berpusat di Lampung dan diprakasai serta dipimpin Abdul Qadir Hasan Baraja sebagai Kholifah atau Amirul Mukminin, Khalifah umat Islam, gerakan ini juga menyebar ke seluruh Indonesia.

Tahun 2000 kelompok Ajengan Masduki mendeklarasikan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Abu Bakar Ba’asyir, yang ditinggal mangkat oleh Abdullah Sungkar diangkat menjadi Amir MMI. Dia diangkat karena paling senior.

NII KW5 Wilayah Sulawesi yang merupakan loyalis Kahar Muzakkar bernaung di bawah gerakan KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syari’at Islam) pasca Reformasi. Tokohnya Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, putra pendiri NII atau DI TII Sulawesi.

Tokoh NII KW4 Wilayah Kalimantan yaitu Ibnu Hadjar walaupun sudah ditangkap namun para pendukungnya juga mengklaim masih meneruskan perjuangan NII KW4

Menurut Ken, sangat wajar bila dari daerah tersebut muncul banyak kasus terorisme karena disamping faktor ideologis tapi ada juga faktor biologis sejarah masalalu tentang gerakan NII disana.

Jika negara tidak menganggap NII bahaya maka itu adalah sebuah sinyal akan ada bencana nasional karena jaringan teroris sudah ada dimana mana dengan baju yang berbeda, bahkan saat ini mereka membaur bersama masyarakat menggunakan kedok gerakan sosial, jadi lebih susah mengidentifikasi. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published.