Ken Setiawan: Ciri Ciri Salafi Wahabi yang Harus Diwaspadai di Sekitar kita



Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengomentari maraknya pemahaman salafi wahabi yang saat ini banyak menyasar kalangan aparat TNI, POLRI, ASN dan kalangan artis yang tiba tiba hijrah.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. R. Ahmad Nurwakhid mengatakan mayoritas tersangka teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror Polri dan BNPT merupakan pemeluk Islam dengan latar belakang kelompok Salafi Wahabi yang jihadis.

Menurut Ken orang yang telah bergabung dengan kelompok salafi wahabi biasanya cenderung ingin menampilkan perilaku sosial keagamaan kehidupan keseharian seperti yang dipraktikkan oleh tradisi orang arab pada jaman Nabi.

Seperti berjubah atau gamis, berjenggot lebat, bagi wanita mengguna cadar, memakai celana isbal (cingkrang dengan celana di atas mata kaki), makan dengan tiga jari, mentradisikan makan kurma, olah raga renang, berkuda dan panahan. mereka juga mengharamkan musik dan hiburan.

Kelompok Salafi Wahabi juga gencar mensosialisasikan jargon jargon agama seperti cinta sunnah, cinta quran, cinta jamaah, cinta masjid dll yang aktif di sosialisasikan di media sosial.

Salafi wahabi juga cenderung gemar mengungkit kembali masalah khilafiah fiqihny. Seperti, tata cara gerakan shalat, tata cara makan, tata cara puasa, niat shalat dan sebagainya, kalau khilafiah fiqihnya tidak seperti kelompok salafi ancamannya dianggap Bid’ah dan keluar dari Islam bahkan ancaman fatalnya bila tidak sesuai mereka akan mendapat tempat di neraka jahanam. Jelas Ken.

Mereka juga mengungkit kembali persoalan khilafiyah sosial-keagamaan, seperti ziarah kubur, tawasul, cara berpakain, tata cara shalawat, maulid nabi dan sebagainya.

Mereka menganggap hal itu merupakan bagian perilaku bid’ah dan pelakunya sesat bisa menuju kepada kekafiran. Tambah Ken.

Ken juga menyoroti kelompok salafi dalam berinteraksi atau berkomunikasi antarsesama warga sering menggunakan idiom-idiom bahasa arab seperti ana, antum, akhi, ikhwan, akhwat dan fenomena ini disebut Arabisme sosial, mereka anti terhadap budaya kearifan lokal nusantara.

Bahkan mereka menganggap para penyebar Islam Walisongo di Indonesia hanyalah cerita atau dongeng belaka sehingga ini bisa menjadi potensi konflik bila berdialog dengan kalangan warga NU yang rajin berziarah ke makam Walisongo.

Sasaran empuk kelompok salafi wahabi adalah masyarakat yang sedang semangat belajar agama namun minim literasi sehingga mudah terpapar. Tutup Ken.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *