Ken Setiawan: NII Crisis Center Terbentuk Karena Kecewa Dengan MUI, Aparat dan Pemerintah



Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengatakan bahwa terbentuknya lembaga NII Crisis Center itu awalnya karena para mantan NII dan keluarga korban kecewa dengan MUI, Kemenag dan Aparat Kepolisian.

Kami menganggap bahwa negara jahat sekali telah melakukan pembiaran terhadap gerakan radikal di Indonesia. Jelas Ken.

Bagaimana tidak kecewa, NII Crisis Center yang menerima ribuan laporan dari masyarakat yang kerabatnya terpapar radikal, tapi tidak ditanggapi dengan serius, malah yang ada justru adalah penghakiman.

Waktu itu NII Crisis Center sempat mengumpulkan puluhan orang tua yang anaknya terpapar, ada yang mengkafirkan orang tua, ada yang hilang dari rumah, ada yang depresi bahkan ada yang gila karena diancam dan ditetor oleh kelompok NII.

Puluhan keluarga korban diajak Ken ke MUI dan melaporkan bahwa anak mereka terpapar ajaran sesat NII, diharapkan mendapatkan petunjuk dan solusi, tapi oleh tokoh MUI justru dijawab bahwa jika anak mereka terpapar ajaran sesat berarti orang tua tidak bisa mendidik anaknya dengan benar sehingga anaknya mengikuti ajaran sesat.

Ada orang tua yang menceritakan jika anaknya yang ikut NII itu sudah hilang sekitar 2 bulan tidak pulang ke rumah, dan dijawab oleh tokoh MUI bahwa keluarga tenang saja, wong anaknya sudah besar, nanti juga pulang.

Jawaban tersebut menurut Ken sangat menyakitkan keluarga korban yang datang ingin mendapatkan petunjuk dan solusi, ini malah justru dihakimi.

Dan yang paling unik adalah ketika ada orang tua korban yang menceritakan bahwa anaknya direkrut oleh NII yang berpusat di Pesantren Alzaytun, tokoh MUI justru mengatakan bahwa itu urusan lembaga pendidikan pesantren adalah tugas Kemenag, bukan MUI, lalu kami diarahkan agar melapor ke Kemenag.

Akhirnya kami beramai ramai datang ke Kemenag, disana pun jawaban tidak memuaskan karena menurut pejabat Kemenag, persoalan NII itu urusan makar atau mendirikan negara dalam negara, bahwa itu menurutnya bukan wewenang Kemenag, tapi wewenang Kepolisian, akhirnya kami direkomendasikan agar melapor ke Mabes Polri.

Di Mabes Polri pun NII Crisis Center dan keluarga korban harus gigit jari karena ternyata Polri tidak bisa menindak NII jika belum memenuhi unsur alat bukti makar atau mendirikan negara dalam sebuah negara, sementara orang tua korban hanya bisa menceritakan putra putri mereka yang direkrut NII yang berpusat di Pesantren Alzaytun di Indramayu Jawa Barat.

Akhirnya NII Crisis Center dan keluarga korban pulang dengan tangan hampa, harus mengadu kemana lagi sementara MUI, Kemenag dan Mabes Polri saja yang dianggap dapat membantu juga tidak bisa berbuat banyak, malah menyalahkan orang tua korban.

Dari kekecewaan dan sadar diri inilah akkhirnya Ken Setiawan menginisiasi berdirinya NII Crisis Center dengan membuat kanal pengaduan di web www.niicrisiscenter.com dan menindaklanjuti laporan satu persatu dengan swadana.

Ken dkk dengan segala keterbatasan pun sadar diri dan tidak terlalu berharap banyak dari negara, karena persoalan korban NII memang belum menjadi prioritas dan belum dianggap membahayakan oleh negara walaupun angkanya cukup banyak.

Sementara ini yang mendapat dukungan penuh dari negara adalah narapidana teroris dan mantan narapidana terorisme, bahkan keluarganya mendapat bantuan usaha dan anaknya mendapat jaminan pendidikan sampai jenjang pendidikan tinggi.

Tapi jika belum jadi teroris, walaupun sudah sangat radikal di NII dan habis habisan ekonomi karena aset tanah dan rumahnya telah dijual untuk infak, tetap saja belum diperhatikan oleh negara, alasanya tidak ada anggaran, karena belum jadi teroris.

Jadi menurut Ken, teroris di Indonesia tidak akan pernah habis dan akan tetap eksis, mati satu tumbuh seribu jika akar pemahaman radikal tetap dibiarkan.

Hal ini seperti pohon yang berbuah dan dipetik setiap musim, jika akarnya tidak dicabut, maka pohon itu akan berbuat setiap musim.

Pembiaran oleh ketidakpedulian negara dianggap sama halnya seperti menyiram pohon ditanah yang ditanami pohon, maka otomatis akan menambah subur kelompok radikal di Indonesia.

Jadi temen teman mantan NII menganggap tragedi kemanusiaan atas nama agama ini seperti peternakan, ada yang pelihara, ada yang memberi makan dan ada yang mamemanfaatkan.

Orang dihancurkan ekonominya atas nama infak bernegara Islam, dihancurkan ahlaknya sehingga menyalahkan dan mengkafirkan orang lain, serta dihancurkan masa depan demi berjuang di negara Islam Indonesia.

Ini sudah masuk kategori tragedi kejahatan kemanusian yang mengatasnamakan agama, dan negara membiarkannya. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *