Ken Setiawan Berikan Materi Penguatan Pancasila Untuk Antisipasi Penyebaran Paham Radikal di UMM Metro



Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan yang juga menjabat sebagai Kapala Bidang Pemuda dan Pendidikan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung memberikan materi penguatan Pancasila ke Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Metro (UMM) yang berlangsung di aula lantai 2 gedung HI kampus setempat, Selasa (14/03/2023).

Hal tersebut sebagai upaya mengantisipasi ancaman paparan paham radikalisme dan terorisme ke kalangan pemuda.

Kegiatan yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Metro tersebut juga menggandeng Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Agama (Kemenag) dan Duta Damai Provinsi Lampung.

Ken Setiawan mengungkapkan, ancaman paham selain Pancasila di Indonesia bagaikan virus Covid-19. Yang mana setiap orang dapat terpapar paham tersebut tanpa gejala apapun

“Bukan hanya virus covid saja, tapi Pancasila saat ini juga dikepung oleh virus intoleransi, radikalisme dan bahkan virus terorisme. Menariknya adalah ada juga orang yang terpapar seperti covid yang sebenarnya anti Pancasila, tapi mereka OTG atau orang tanpa gejala. Jadi orang-orang itu terpapar tanpa gejala, dia sudah ada jiwa intoleransi dalam dirinya, tapi tidak menyadarinya” ungkap Ken dalam materinya.

Pria kelahiran Kebumen tersebut juga mengungkapkan bahwa ancaman kelompok radikal yang dapat merongrong kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) telah menyebar di berbagai aspek kehidupan.

“Bahkan bukan hanya masyarakat umum, pejabat kita, bahkan mohon maaf di aparat kita TNI POLRI litu juga banyak yang terpapar.

Menurut Ken, dalam memahami Pancasila itu bertahap, jangankan lima sila, satu sila saja kita aplikasikan pada sila pertama, kita jamin kita akan menjadi orang yang damai. Untuk melihat orang itu intoleran atau tidak dengan sila pertama pun kita dapat melihat,” bebernya.

Pria yang pernah bergabung dalam organisasi terlarang di Indonesia tersebut juga menceritakan, dirinya dahulu adalah seorang penganut anti Pancasila, namun setelah mengenal dan mempelajari Pancasila dirinya memutuskan untuk hijrah.

“Jadi pada waktu itu Pancasila itu hal yang sangat kita musuhi, tapi alhamdulillah bisa keluar dan saya tidak menyangka tahun 2019 saya diundang menjadi narasumber di kongres Pancasila. Saya juga kaget, Saya orang yang anti Pancasila kok disuruh bicara soal Pancasila,” terangnya.

“Alasan saya kenapa keluar, dulu orang yang anti Pancasila sekarang berani mengkampanyekan Pancasila sebagai alat pemersatu. Menarik memang jika berbicara tentang Pancasila, karena hari ini jujur Pancasila dikepung oleh banyak sekali ancaman,” imbuhnya.

Ia juga mengaku pernah mendapatkan penghargaan dari Bupati dan Gubernur NII atas capaiannya merekrut banyak pengikut. Namun kini, dirinya bersyukur telah keluar dari organisasi terlarang tersebut.

“Dulu bangga karena merasa menyelamatkan banyak orang tapi sekarang menyesal, ternyata dirinya telah menyesatkan banyak orang.

Saya sudah banyak ketemu dengan senior-senior mantan terorisdansenior alumni Afghanistan yang meminta saya untuk berhenti di NUI dan fokus untuk memperbaiki diri dan mempelajari Pancasila agar menjadi orang yang damai,” lanjutnya.

Pendiri pusat rehabilitasi korban jaringan NII maupun organisasi radikal sejenis lainnya yang diberi nama NII Crisis Center tersebut mengaku akan terus memberi penguatan dan pengamalan Pancasila kepada masyarakat dan generasi muda penerus bangsa.

“Saya jadi lebih memahami Pancasila karena banyak dipertemukan dengan orang-orang yang berbeda agama, untuk mengenal perbedaan ini yang memang sudah menjadi kehendak Tuhan.

Jadi founding father kita itu sangat luar biasa termasuk para ulama yang merumuskan Pancasila ini hingga dapat mempersatukan begitu banyak perbedaan

Jadi untuk menyikapi perbedaan ini ya dengan Bhinneka Tunggal Ika walaupun berbeda-beda kembali pada sila pertama bahwa Ketuhanan yang Maha Esa, Tuhan Semesta Alam hanya Satu, Sejatinya Tuhan kita itu sama, hanya orang bijaksana menyebutnya dengan banyak nama, atau setiap agama menyebutnya dengan asma asma yang beda, cara ibadahnya pun berbeda,

Ibarat menempuh arah tujuan yang sama tapi melewati jalan yang berbeda, jadi tidak perlu kita perdebatkan, yang penting kita saling menghormati satu dengan yang lain dan anggap perbedaan sebagai sarana untuk saling mengenal dan melengkapi seperti warna pelangi yang berbeda beda tapi beriringan menjadi Indah. Tutup Ken.

 

One thought on “Ken Setiawan Berikan Materi Penguatan Pancasila Untuk Antisipasi Penyebaran Paham Radikal di UMM Metro”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *