Kolaborasi Bersama 15 Negara Cegah Terorisme Jelang 2024, POLRI Hadirkan Pendiri NII Crisis Center



Badan Intelijen Keamanan Polri menggelar Focus Group Discussion bersama perwakilan 15 negara dan kementrian/lembaga dalam rangka kolaborasi pembuatan kerjasama dalam menangkal ancaman terorisme ditahun politik 2024 bertempat di Royal Hotel Kuningan 23 November 2023.

Negara negara yang diundang adalah Australia, Brunei Darussalam, Cina, Filipina, Jepang, Kamboja, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand, Singapore, Timur Leste, Vietnam dan Papua New Guenia.

Acara dibuka oleh Direktur Keamanan Negara Brigjen Pol Ruslen Efendi dengan seremonial penabuhan gong, dilanjutkan FGD paparan narasumber dan diskusi.

Narasumber pertama adalah Ken Setiawan Pendiri NII Crisis Center, kedua adalah Pengamat Politik Prof Hermawan Sulistyo dan narasumber ketiga adalah Irjen Pol Ibnu Suhendra dari Deputi Penindakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI.

Ken Setiawan dalam paparannya menyampaikan bahwa sejarah terorisme di Indonesia tak lepas dari sepak terjang Negara Islam Indonesia (NII) dan Salafi Wahabi, bahkan ken menyebut bahwa NII adalah ibu kandung dari kelompok teroris di Indonesia.

Kelompok teroris itu mendambakan negara yang berdasarkan negara Islam secara kaffah atau Khilafah, bahwa orang Islam harus tinggal di negara Islam dan menggunakan hukum Islam.

Kelompok radikalisme dan terorisme itu rata rata hakimiah atau mudah menjadi hakim atas kepercayaan dan keyakinan orang lain, merasa memegang kunci surga dan menganggap kelompok lain masuk neraka, mereka juga takfiri merasa paling beriman dan anggap kelompok lain kafir semua.

Ken Setiawan juga mewanti wanti agar pemerintah dan aparat serta 15 perwakilan negara asing agar berhati hati jelang 2024 karena kelompok radikalisme dan terorisme diprediksi bakal melakukan aksi teror.

Terbukti selama bulan Oktober 2023 Densus 88 berhasil menangkap 59 tersangka terorisme di beberapa daerah yang menurut keterangan akan melakukan aksi teror dan menggagalkan pemilu 2024.

Ken juga menceritakan beberapa pengalaman keliling ke beberapa negara yang pernah berkonflik di Timur Tengah, seperti daerah konflik Palestina dan Israel itu menurutnya besar pengaruhnya terhadap bangkitnya sel sel radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Terakhir Ken Setiawan berkunjung ke negara Turki, menurutnya ada banyak kesamaan Indonesia dan Turki termasuk sama sama mayoritas negara dengan penganut mayoritas agama Islam.

Di Turki juga ada peristiwa upaya kudeta pada 15 Juli 2016, Upaya ini diduga direncanakan oleh organisasi FETO dan sebuah faksi di tubuh Angkatan Bersenjata Turki yang mengakibatkan banyak orang meninggal dan ribuan luka luka.

Para pendukung FETO pasalnya protes, Turki yang mayoritas Islam kenapa hukum yang diberlakukan adalah hukum sekuler, mereka memprovokasi masyarakat dan aparat agar bisa merubah Turki menjadi negara yang berdasarkan hukum Islam.

Turki Ustmani juga merupakan kekuasaan Islam yang berdiri dan berpusat di Turki sejak abad ke 13-20 M namun pada Maret 1924, Kekhalifahan Utsmaniyah atau Ottoman, secara resmi dibubarkan oleh Mustafa Kemal Ataturk.

Kelompok pengusung Khilafah di Indonesia dan dunia yakin bahwa Khilafah akan bangkit kembali setelah satu abad yaitu pada tahun 2024.

Kebetulan sekali tahun 2024 di Indonesia ada hajat besar pesta demokrasi pemilihan presiden, kondisi ini dinilai rawan dan berpotensi keos, Ujar Ken.

Diharapkan jelang tahun 2024 ini, aparat dan pemerintah berserta kementrian lembaga siaga dan sinergi dalam upaya mencegah potensi beraksinya gerakan radikalisme dan terorisme. Tutup Ken.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *