Muhammadiyah Imbau Jaga Masjid dari Pengaruh Eksternal, Ken Setiawan: Banyak Petingginya Terpapar Salafi



Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul Mu’ti, mengirimkan peringatan keras kepada jajaran jamaah Muhammadiyah untuk mempertahankan pengelolaan masjid dalam lingkungan internal mereka. Ini diungkapkan mengingat kekhawatiran akan dominasi kelompok eksternal yang bisa mengubah nuansa kegiatan keagamaan yang dilakukan di masjid-masjid tersebut.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center atau Pusat Rehabilitasi Korban NII yaitu Ken Setiawan turut menyoroti maraknya infiltrasi kelompok Salafi di tubuh organisasi Muhamadiyah itu sudah lama dengan istilah MUSA atau Muhamadiyah Salafi yang akhir akhir ini ternyata semakin masif.

Kelompok Salafi pada hakikatnya hanyalah sekelompok orang kecil yang jumlahnya sendiri juga belum diketahui secara pasti. Tetapi seperti halnya virus, cara berpikir khas kelompok ini merebak dan mempengaruhi banyak orang dimanapun, sehingga seolah kelompok ini jumlahnya sangat banyak.

Kelompok ini bukanlah organisasi dengan berbagai sistem yang tertata. Walaupun begitu, mereka punya struktur kepemimpinan yang berbasis pada pengakuan keguruan dan keilmuan dengan standar mereka sendiri.

Padahal kelompok Salafi di dalam organisasi Muhamadiyah bukan siapa siapa dan bukan apa apa, tapi mendapatkan panggung yang cukup besar karena dianggap mempunyai kesaman dakwah seperti menggunakan slogan Cinta Sunah dan Anti Bid’ah. Tambah Ken.

Bahkan selain Ormas Muhamadiyah, kelompok Salafi juga menyasar kalangan Artis yang tiba tiba Hijrah, Pegawai ASN, aparat TNI dan POLRI dengan istilah Cinta Hijrah, TNI Cinta Sunah dan Polisi Cinta Sunnah.

Banyak Artis, Pegawai dan Aparat TNI/Polri setelah Hijrah dan gabung bersama Salafi tiba tiba anggap menyanyi itu haram.

Bahkan menyanyi Indonesia Raya pun tidak diperbolehkan, bila dilaksanakan sebab tugas maka setelah menyanyi diminta istigfar karena dianggap telah melakukan dosa. Terang Ken.

Salafi sendiri dikenal dengan pendekatan dakwahnya yang konservatif. Alasan Salafi lebih sering menggunakan masjid yang berada di bawah naungan Muhammadiyah untuk mengadakan pengajian karena dianggap sesuai dengan pandangan dan pemahaman mereka.

Belakangan Muhamadiyah mulai resah sejak munculnya serangan yang dilontarkan oleh Tokoh Salafi yaitu Muflih Safitra terhadap Ustadz Adi Hidayat (UAH) yang merupakan tokoh dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengenai pandangan UAH bahwa dakwah musik dibolehkan dalam Islam.

Muflih Safitra, dalam sebuah video yang dia unggah menuduh UAH mengemukakan pendapat tanpa berlandaskan manhaj salafus shalih dan tidak mengacu pada ulama mu’tabar yang akhirnya ramai di medsos para pendukung Salafi melontarkan caci maki dan ujaran kebencian terhadap UAH.

Kelompok Salafi itu kaku dan keras dalam beragama, bila tidak sependapat denganya dan mengkritisinya maka mereka tidak segan segan mencap sebagai ahli bid’ah, kafir dan bahkan dianggap sebagai agen islamophobia dan musuh Islam.

Rilis dari BNPT bahwa hampir semua teroris yang ditangkap aparat latar belakang pemahaman dan ideologinya adalah NII dan Salafi Wahabi.

Terkait hal itu, sudah ada faktanya bahwa terdapat oknum pengurus Muhamadiyah yang terpapar paham Salafi sehingga terlibat terorisme, seperti pengurus Majelis Tarjih, ketua ranting, pengurus dan anggotanya ditangkap densus 88 karena bergabung dalam jaringan Terorisme. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *