Ken Setiawan: Kelompok Radikalisme Identik Dengan Jargon Cinta Sunnah dan Anti Bid’ah



Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan yang juga merupakan mantan komandan NII menyampaikan bahwa kelompok radikal-teroris menebarkan pahamnya menggunakan berbagai macam propaganda dimasyarakat.

Banyak laporan ke NCC itu terpapar radikalisme karena awalnya diajak kajian dengan nama Pejuang Hijrah, Pejuang Sunnah, Cinta Masjid, Cinta Sunnah, Cinta Quran, Indonesia Mengaji dll dengan nama nama yang Islami.

Bahkan ada pesantren Tahfidz Quran yang seluruh santrinya 150 diajak berbaiat oleh pengasuh pesantren kedalam kelompok radikalisme untuk siap berjihad mendirikan negara Islam.

Awalnya ketika pertemuan umum materinya masih bagus bagus, materinya mentoring, motivasi, enterpreneur dll, tapi lama kelamaan korban diajak kajian tertutup yang hanya beberapa orang saja, ayat-ayat Qur’an dan hadist ditafsirkan dan dipelintir maknanya sesuai kepentingan mereka sebagai modal mempengaruhi pola pikir calon korban.

Anggota yang jadi sasaran rekrutmen juga dicuci otaknya melalui sugesti doktrin agama, jika melawan ayat alquran dan hadist yang mereka sampaikan dianggap anti Islam, melawan Tuhan dan tempatnya neraka.

Ken menyebut bahwa kelompok radikalisme mendoktrin anggotanya dengan hal hal yang sifatnya khilafiah menjadi frontal misalnya dengan membid’ahkan dan mengkafirkan orang NU yang menjalankan tahlilan, sholawatan, maulidan, yasinan dan biasanya kemudian membentur-benturkan sistem, peraturan, dan hukum negara di Indonesia dengan hukum Islam dan Al-Qur’an.┬áPancasila dan demokrasi itu buatan manusia yang tidak layak ditaati.

“Yang ada di dalam kelompok Radikal hanya hitam dan putih, benar dan salah, beriman dan kafir, percaya atau tidak. Indonesia dikondisikan menjadi negara thaghut dan melanggar peraturan hukum Allah,” ungkap Ken, pria yang dulu pernah menjadi komandan NII tersebut.

Kelompok radikalis juga mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ditafsirkan sendiri sebagai modal membuat jejaring seperti Multi Level Marketing (MLM). Mereka masuk ke berbagai lembaga dan instansi seperti sekolah, perguruan tinggi, birokrasi ASN bahkan sampai ke lingkungan aparat TNI POLRI, Tambah Ken.

Di internal aparat kita sekarang juga masif diserang virus radikalisme dengan istilah Polisi Cinta Sunnah dan TNI Cinta Sunnah. Jumlah pengikut di media sosial instagram mencapai ratusan ribu follower

Mereka kelompok radikalisme itu juga gencar melakukan penetrasi melalui media sosial dengan memproduksi konten-konten narasi propaganda, hoaks, dan ujaran kebencian. Mereka menyatakan orang di luar kelompoknya sebagai musuh yang harus diperangi.

Jumlah mereka kelompok Radikal memang saat ini masih sedikit, tapi mereka sangat berisik dalam hal propaganda, terutama mereka sangat gencar di media sosial. Jelas Ken.

Jika dibiarkan oleh pemerintah dan mereka menjadi besar dapat dipastikan mereka akan melakukan pemberontakan atau kudeta seperti yang terjadi di Suriah dan Libya yang dulu damai namun kini hancur karena radikalisme yang mengatasnamakan agama. Tutup Ken.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *